SISWA MAN IC SERPONG JELAJAHI KEARIFAN LOKAL BADUY DALAM PEMBELAJARAN LAPANGAN SOSIOLOGI
Sebanyak 40 siswa kelas XII MAN Insan Cendekia Serpong peminatan mata pelajaran Sosiologi, bersama 5 guru pendamping, melaksanakan kegiatan pembelajaran lapangan ke wilayah Baduy, pada Jumat–Sabtu, 10–11 Oktober 2025. Kegiatan ini bertujuan memperdalam pemahaman siswa terhadap masyarakat adat dan kearifan lokal secara langsung di lapangan.
Rombongan berangkat dari kampus MAN IC Serpong pada Jumat sore pukul 16.00 dan tiba di Terminal Ciboleger, Kabupaten Lebak, Banten sekitar pukul 19.30. Setelah beristirahat sejenak, para peserta menginap di Kampung Kaduketuk, wilayah Baduy Luar, sebagai tempat persiapan menuju kegiatan utama keesokan harinya.
Pada Sabtu pagi pukul 06.30, seluruh peserta memulai perjalanan kaki menuju Kampung Cibeo, wilayah Baduy Dalam, yang dikenal sebagai pusat kehidupan masyarakat adat Baduy. Perjalanan pulang-pergi menempuh waktu sekitar 8 jam, melewati jalur perbukitan, hutan, dan sungai yang masih alami.
Selama kegiatan, para siswa belajar langsung dari masyarakat Baduy mengenai sistem sosial, nilai-nilai adat, serta bentuk kearifan lokal yang menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian alam dan harmoni sosial. Mereka juga menikmati keindahan alam perbukitan Baduy, sekaligus merenungkan makna hidup sederhana yang dipegang teguh oleh masyarakat adat setempat.
Guru Sosiologi MAN IC Serpong, Tri Haryanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar wisata edukatif, tetapi juga pembentukan karakter.
“Selain belajar tentang budaya dan kearifan lokal masyarakat Baduy, para siswa juga telah membuktikan dirinya kuat dan tangguh. Mereka mampu berjalan kaki selama delapan jam menempuh jalur Baduy Dalam dengan semangat luar biasa,” ujar Tri Haryanto.
Hal senada disampaikan oleh Andrian Priantoro, guru Pendidikan Jasmani sekaligus Wakil Kepala Madrasah bidang Sarana dan Prasarana, yang turut mendampingi kegiatan ini.
“Fisik siswa-siswa IC luar biasa. Ini bukti bahwa siswa MAN IC Serpong bukan hanya hebat secara intelektual, tetapi juga memiliki mental dan fisik yang kuat. Kegiatan seperti ini menunjukkan keseimbangan antara kecerdasan akademik dan ketangguhan karakter,” ungkapnya.
Kegiatan pembelajaran lapangan ini menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang tidak hanya memperkaya wawasan akademik siswa, tetapi juga menumbuhkan rasa empati, tanggung jawab, dan cinta terhadap budaya Indonesia.



