DARI SERPONG UNTUK INDONESIA: MERUMUSKAN LOMPATAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH MENUJU GENERASI EMAS 2045

Serpong — Upaya memperkuat literasi nasional kembali mendapat momentum penting melalui kunjungan strategis Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas ke MAN Insan Cendekia Serpong. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari ikhtiar besar merumuskan peta jalan pengembangan perpustakaan sekolah dan madrasah di Indonesia.

Dalam sambutannya, Direktur Agama, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Bappenas, Didik Darmanto, S.Sos., MPA, menegaskan bahwa perpustakaan harus menjadi pusat lompatan kualitas pendidikan nasional. Menurutnya, tantangan menurunnya kompetensi literasi dan numerasi siswa perlu dijawab dengan penguatan ekosistem literasi yang nyata dan terukur.

“Perpustakaan harus dioptimalkan perannya. Di sanalah minat baca bisa ditumbuhkan, potensi anak dikembangkan, dan masa depan bangsa disemai,” ungkapnya. Ia juga menyoroti fakta bahwa dari sekitar 150.000 perpustakaan sekolah di Indonesia, baru sekitar 4% yang memenuhi standar. Kondisi ini menjadi dasar urgensi penyusunan roadmap yang komprehensif.

Didik juga berbagi pengalaman personal yang menguatkan pentingnya literasi sejak dini. Buku berjudul “Cita-citaku Jadi Wartawan” disebutnya sebagai salah satu bacaan yang membentuk arah hidupnya. “Buku bisa mewarnai cita-cita anak. Itulah kekuatan perpustakaan,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran kepala sekolah dalam pengembangan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran. Dalam konteks itu, MAN Insan Cendekia Serpong dinilai sebagai contoh praktik terbaik (best practice) yang layak direplikasi secara nasional. “Kami datang untuk belajar langsung, melihat bagaimana perpustakaan bisa dikelola secara unggul dan berdampak,” tegasnya.

Suasana kegiatan semakin hidup dengan penampilan kreatif dari Library Student Club (LSC). Mereka menghadirkan puisi berantai yang unik, melibatkan Guru Matematika, Pustakawan, hingga Petugas Kebersihan. Penampilan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan kuat bahwa literasi adalah tanggung jawab bersama. Tepuk tangan meriah pun mengiringi penampilan tersebut.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten, Dr. H. Amrullah, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan apresiasi atas kunjungan tim Bappenas. Ia menegaskan bahwa MAN Insan Cendekia Serpong memang layak dijadikan rujukan nasional. “Nama harum pendidikan di Provinsi Banten salah satunya ditopang oleh prestasi madrasah ini, termasuk perpustakaannya yang telah berkiprah di level nasional,” ujarnya. Ia berharap program pengembangan perpustakaan yang dirancang Bappenas dapat diimplementasikan secara luas di seluruh sekolah dan madrasah.

Kepala Madrasah, Hilal Najmi, turut menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. Ia memaparkan secara singkat profil madrasah dan komitmen dalam mengembangkan perpustakaan sebagai jantung pembelajaran. Baginya, perpustakaan bukan sekadar ruang buku, tetapi ruang tumbuhnya gagasan dan karakter siswa.

Sesi pemaparan dilanjutkan oleh Kepala Perpustakaan, M. Ihsanuddin Hasbie, yang menjelaskan sistem pengelolaan perpustakaan berbasis standar Perpustakaan Nasional—bahkan telah melampaui standar minimal. Ia menyampaikan bahwa perpustakaan MAN Insan Cendekia Serpong telah meraih Akreditasi A dengan nilai hampir sempurna serta ditetapkan sebagai Perpustakaan Sekolah Rujukan Nasional. Tak heran jika perpustakaan ini menjadi destinasi studi banding berbagai institusi pendidikan.

Presentasinya ditutup dengan kutipan inspiratif dari Harold Howe II, “What a school thinks about its library is a measure of how it feels about education.” Sebuah refleksi yang menegaskan bahwa kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh bagaimana sebuah sekolah memandang dan mengelola perpustakaannya.

Kegiatan kemudian berlanjut dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung dinamis. Para peserta aktif bertukar gagasan, menggali praktik terbaik, sekaligus membahas tantangan nyata di lapangan.

Sebagai penutup, seluruh tamu bersama pimpinan madrasah melakukan kunjungan langsung ke perpustakaan. Diskusi hangat terus berlanjut di ruang-ruang literasi tersebut. Kepala Perpustakaan, pustakawan, serta anggota LSC dengan sigap mendampingi dan memberikan penjelasan, memperlihatkan profesionalisme sekaligus semangat kolaboratif.

Kunjungan ini menjadi penanda penting bahwa transformasi perpustakaan sekolah bukan sekadar wacana, melainkan gerakan nyata. Dari Serpong, harapan besar itu dirajut: menghadirkan perpustakaan sebagai pusat literasi yang hidup, inklusif, dan berdaya dorong tinggi bagi terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045.

Similar Posts